Demokrasi… Demokrasi…. Demokrasi sampai mati….

Itulah sepotong yeal yeal yang biasa didengungkan dalam setiap aksi unjuk rasa di berbagai tempat. Tapi apa mereka tahu dan mengerti atas apa yang para demonstran ucapkan itu??? Saya harap begitu,, tapi kalau saja mereka tahu makna atas apa yang mereka ucapkan itu,, maka saya yakin, pasti mereka akan segera mengganti yeal yeal mereka itu.
Memang belakangan ini banyak timbul unjuk rasa di berbagai daerah baik itu oleh mahasiswa maupun masyarakat umum yang merupakan reaksi ketidakpuasan atas berbagai hal yang dialamatkan kepada pemerintah. Terlebih lagi atas kasus yang sedang hangat diberitakan yaitu skandal Bank Century yang belum juga dapat dituntaskan meskipun telah banyak upaya yang dilakukan untuk itu.
Adanya berbagai demonstrasi tersebut banyak dibilang sebagai kebebasan berekspresi yang merupakan produk dari demokrasi. Tapi apasih demokrasi itu sendiri?? Sebuah pertanyaan mendasar untuk para pengagum dan pemuja demokrasi (mungkin anda salah satunya..). Demokrasi, adalah standard politik dalam negara yang ber-ideologi kapitalis, atau negara lain yang mengikuti serta meniru-niru negara kapitalis.
– Kapitalisme, adalah pandangan hidup (ideologi) yang melihat segala sesuatu dari kepentingan materi, manfaat, kebebasan, meng-halal-kan segala sesuatu untuk kepuasan pribadi
Berasal dari kata “demos kratos”, pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, dengan menjalankan peraturan yang dibuat sendiri oleh rakyat dan ada juga malah seorang pemuja demokrasi yang menyebut “suara rakyat adalah suara tuhan”, saya tidak habis pikir apa yang ada di benak orang ini hingga bisa keluar ucapan seperti itu.
Saya jadi ingat kutipan seorang anggota dewan yang malah berasal dari sebuah partai yang katanya berasaskan Islam beberapa waktu lalu beliau berkata, “Inikan negara Indonesia, maka yang harus digunakan adalah undang-undang dan hukum positif di Indonesia, jadi jika tidak mau diatur hukum positif di Indonesia silahkan keluar dari wilayah NKRI”. Terdengar lucu dan ironis, karena sesungguhnya seluruh wilayah bumi dan isinya ini hanyalah milik Allah tak terkecuali tanah yang sedang kita injak dan bumi yang kita tinggali sekarang, jadi notabene jika anda tidak mau diatur hukum Allah yaitu Syari’at Islam, silahkan anda keluar dari bumi Allah ini, simpel saja kan…
Dalam demokrasi dikenal adanya sistem perwakilan yang dalam hal ini berbentuk parlemen/dewan perwakilan. Anggota parlemen dipilih merupakan hasil dari adanya pemungutan suara dari rakyat dan disini salah satu contoh kebatilan itu muncul, mari kita bedah satu persatu dilihat dari aspek pemerintahan dengan simpel. Seorang anggota parlemen dipilih atas seberapa banyak dia memiliki suara dari para pemilihnya dalam pemilihan, makin banyak meraup suara maka semakin lebar peluangnya guna menjadi anggota parlemen. Namun, bagaimana calon anggota parlemen ini memikat hati para pemilihnya guna bertujuan akan memilihnya di kemudian hari?? Tentu banyak cara yang dapat dilakukan, mulai dari souvenir kecil-kecilan hingga papan reklame super jumbo guna memperkenalkan siapa dirinya.
Dan semua itu membutuhkan biaya bukan??? Entah dari kocek sendiri maupun sumbangan para donatur pengusungnya dan siapa yang memiliki modal besar maka sangat berpeluang memenangkan “kontes” ini, itulah mengapa disebut kapitalisme karena hanya yang bermodal (capital=modal) yang dapat mengikuti kontes ini. Misal dari saku pribadi calon tadi dalam usahanya melakukan kampanye guna meraup suara pemilih sebanyak-banyaknya, tentu jumlahnya tidak seratus dua ratus ribu. Kita ambil contoh di daerah yang memiliki populasi kecil, misal kabupaten A memiliki pemilih potensial 500.000 jiwa, kita kalikan dengan souvenir harga seribu rupiah saja dan hasilnya setengah milyar!! Belum lagi berbagai spanduk dan sebagainya. Bersyukur sekali kalau memang orang ini berhati mulia dan memang berjuang membelanjakan hartanya guna memperjuangkan Agamanya dan bukan untuk kelompok apalagi kepentingan pribadi.
Lalu andai modal didapat dari para donatur pengusungnya dan berhasil memenangkan pemilihan dengan meraup suara terbanyakdari para pemilih, tentu prinsip kapitalis masih bermain disini. Dan saya berani jamin akan ada banyak “titipan” kepentingan dari para pengusungnya yang mendonasikan modal tersebut, meskipun mungkin ada yang memang rela sepenuh hati, mungkin. Berhubung parlemen adalah sebagai badan Legislatif maka para anggota dewan terpilih bertugas membuat undang-undang. Dan disinilah faktor kepentingan itu muncul, para donator yang “kurang” ikhlas tadi akan menagih atas modal yang telah mereka donasikan berupa peraturan atau undang-undang yang mendukung berbagai kepentingan mereka. Banyak contohnya undang-undang yang tidak memihak rakyat, BHP dalam pendidikan, UU outsourching dalam Ketenagakerjaan, kasus Freeport, dan masih banyak lagi.
Mungkin tulisan diatas terlalu berat sisi negatifnya mengenai kapitalis-demokrasi dalam sistem pemerintahan dan cenderung pesimis terhadap para anggota dewan dan para penyumbang modalnya yang digambarkan materialistis. Kalau begitu kita asumsikan para anggota dewan dan tim suksesnya seluruhnya berhati mulia dan benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyat dengan membuat perundangan dan peraturan yang memihak rakyat. Namun tetap saja cacat, lho kenapa?? Karena menilik dari fungsi badan legislatif itu sendiri yaitu membuat undang-undang. Tentu kita sudah faham bahwa hanya Allah-lah yang berhak membuat undang-undang yang hanya berdasar pada Al-Qur’an dan As Sunnah lah kita patut jadikan pedoman hidup, bukan merupakan hasil dari kesepakatan-kesepakatan para anggota dewan di parlemen!!. Analoginya, Allah sebagai pencipta (khaliq) tentu mengetahui segala sesuatu secara detil tentang ciptaan-Nya (makhluq) tak terkecuali apa saja peraturan yang dibutuhkan makhluk-Nya dalam menjalani kehidupan yang sesuai fitrah dan sudah jelas yang menjadi sumber dari segala sumber hukum adalah Al Qur’an dan As Sunnah, bukan yang lain,
Inilah contoh batilnya demokrasi dalam pemerintahan, karena berazaskan sekuler (pemisahan urusan agama dengan kehidupan dalam bermasyarakat dan bernegara). Lalu apa ada solusi selain kapitalis-demokrasi yang berazaskan sekulerisme?? Tentu ada solusinya, yaitu ISLAM.

Berikut Mitos dan Realitas Demokrasi yang ada :

MITOS
Demokrasi, dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat

REALITAS
Para kepala negara dan anggota parlemen negara-negara demokrasi (AS, Inggris) sebenarnya bukan mewakili rakyat, melainkan mewakili kehendak kaum kapitalis (pemilik modal, konglomerat)
– Kaum kapitalis raksasa inilah sebenarnya yang mendudukan mereka kedalam posisi pemerintahan dan lembaga-lembaga perwakilan
– Harapan mendudukan anggota parlemen adalah agar mereka dapat merealisasikan kepentingan kaum kapitalis
– Kaum kapitalis yang membiayai para politisi, mulai dari kampanye sampai proses pemilihan presiden dan anggota parlemen
– Kebijakan-kebijakan negara-negara demokrasi seringkali merupakan realisasi tekanan kaum kapitalis (pemilik modal, konglomerat)

MITOS
Demokrasi adalah Kebebasan

REALITAS
Ternyata kebebasan itu hanya diperbolehkan apabila mendukung sekulerisme (azas demokrasi), namun apabila ternyata mendukung azas syariat Islam maka ia akan dihancurkan
• Pelarangan jilbab di Perancis
• Konspirasi global terhadap tuduhan terorisme Islam
• Larangan terhadap stasiun Aljazeera di Irak dalam meliput perang
• Pembatalan dan pemberangusan terhadap kemenangan FIS di Aljazair
• Pujian AS terhadap sistem “pemerintahan ideal umat Islam” di Turki (padahal penggunaan kerudung saja dilarang dengan alasan bertentangan dengan perinsip sekulerisme)
• Penekanan dan pembubaran Partai Reffah, karena dianggap membahayakan sekulerisme

MITOS
Demokrasi adalah Kesejahteraan

REALITAS
Propaganda barat agar negara dunia ketiga menerapkan demokrasi untuk kesejahteraan, namun realitasnya hanya memakmurkan negara-negara kapitalis dan agen-agen-nya (seperti jepang, singapore)
• Pada saat Badan Pangan Dunia (FAO) menyatakan 817 juta penduduk dunia kelaparan & setiap 2 detik satu orang meninggal dunia, maka pada saat yang sama negara-negara maju sibuk melawan kegemukan
• Pemenuhan kebutuhan pangan dan sanitasi USD13 miliar = +/- pengeluaran per tahun orang-orang Amerika dan uni eropa untuk membeli parfum mereka
• Kesejahteraan kaum kapitalis, bukan karena demokrasi, namun karena eksploitasi mereka terhadap kekayaan negara-negara lain dengan RAKUSSS
• Kapitalisme tumbuh besar dengan merampok dan memiskinkan dunia ketiga secara sistimatis (seperti melalui krisis moneter, privatisasi, pasar bebas, pemberian hutang, standarisasi mata uang dolar, dsbnya
• Demokrasi dimanfaatkan untuk kepentingan penjajahan ekonomi, pertama dicap sebagai pelanggar demokrasi dan HAM, kemudian blokade ekonomi, dan perampokan kekayaan alam .. HUH!
• Tidak ada relevansinya antara demokrasi dengan kesejahteraan

MITOS
Demokrasi adalah Stabilitas

REALITAS
Demokrasi justru menimbulkan banyak konflik ditengah masyrakat
• Ketika pintu kebebasan dibuka -> banyak pihak yang menuntut dis-integrasi sebagai wujud kebebasan dan kemerdekaan
• Reformasi yang memunculkan konflik timor timur, aceh, maluku, papua
• Memunculkan Kekisruhan dalam pemilihan kepala daerah
• Memunculkan fanatisme nasionalisme atas nama bangsa, suku dan kelompok
• Disintegrasi yang berlarut-larut
• Topeng demokrasi yang telah menimbulkan PULUHAN RIBU korban manusia

Jadi, anda masih mau memuja demokrasi atau . . .
Tentukan pilihan anda sekarang . . .

Advertisements

About NcangDaus

Tentang saya? kiranya ngga terlalu penting, nikmatilah tulisan ini tanpa harus tahu siapa penulisnya... :):D:D:D

14 responses »

  1. hersu says:

    ada udang dibalik batu…

  2. Syahroyni says:

    Nice Article mas . .
    dah lama nich gak nampak artikel barunya . .

  3. Very nice article . .

    success

  4. anyin says:

    wah wahhh bank centurynya masih heboh yaa

  5. bayuputra says:

    wah masalah politik lagi… saya nyerah kalau di ajak membahasa masalah politik karena saya blasss nggak ngerti masalah politik… heeee (nggak mau ikut-ikutan) habis takut .. kata nenek saya dulu politik itu kejam….

  6. bayuputra says:

    nice postingan mas…

  7. ndop says:

    yang salah itu orangnya mas, bukan demokrasinya…

    • Daoz says:

      waduh mas,, kurang tepat tuh.. Demokrasi itu sebuah sistem/aturan dan sistem akan membentuk apa yang diaturnya… kurang lebih seperti itu,, mudah2an mas belum puas dengan jawaban saya..

  8. hanif IM says:

    demokrasi, entahlah, sudah agak buta sama hal itu di kehidupan realita, karena media TV saja sudah sering meliput demokrasi yang rusak akan moral pelakunya yang tak tahu malu. ntahlah, saya sedikit skeptis akan hal ini. semoga menjadi lebih baik lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s