Ada ungkapan yang bilang di dunia ini yang memiliki kepastian hanya ada dua, yaitu kematian dan pajak. Tapi ungkapan ini ngga sepenuhnya benar karena sebagai muslim kita juga memiliki rukun iman yang wajib diimani kebenarannya dan itu juga bersifat pasti. Mungkin yang mencetuskan ungkapan diatas hanya orang atheis saja,, Judul diatas mungkin agak bakal membosankan dan sedikit “berat”, tapi itu cuma perasaan ajah karena setelah selesai baca pasti ngga lagi mau bayar pajak konvensional,, hhe… cekidot dulu ah…
Pajak secara umum memiliki arti iuran wajib yang bersifat memaksa dari wajib pajak kepada Negara yang manfaatnya dirasakan secara tidak langsung yang diatur undang-undang. Kurang lebih itu pengertian pajak yang saya pahami dan pajak itu beraneka ragam bentuknya, dari Pajak pertambahan nilai (PPn), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Penghasilan (PPh) dan sebagainya yang memiliki persentase sendiri dalam pemungutan tiap pajak tersebut yang diatur oleh undang-undang hasil kesepakatan para legislator di parlemen tentunya.
Pajak merupakan salah satu sumber pemasukan terbesar bagi APBN kita, disamping Migas dan lainnya. Entah kenapa malah iuran rakyat yang jadi sumber pemasukan terbesar negeri ini, padahal kita tidak kekurangan malahan sangat berlebih sumber daya alam untuk dimanfaatkan sebagai sumber utama pemasukan Negara, bukan dari rakyat yang mayoritas masih tercekik masalah kemiskinan ini yang dibebani pajak, kenapa sifat pemimpin bangsa ini seperti pemalak?? Pemerintah bilang bahwa pajak hanya dikenakan kepada wajib pajak yang telah memenuhi syarat saja, kenyataannya?!! Pajak untuk wajib pajak yang telah memenuhi syarat hanya untuk jenis pajak penghasilan (PPh) dan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) saja, memang hanya bagi wajib pajak yang memiliki penghasilan tertentu saja yang dikenakan PPh dan PBB, tapi apa kita lupa bahwa kita masih punya stok jenis pajak yang lain? Yaitu Pajak Pertambahan nilai (PPn), dimana setiap produk yang kita gunakan sehari-hari baik itu sabun, sembako, dan sebagainya secara langsung telah terkena PPn yang besarnya beraneka ragam.
Jadi, seluruh lapisan penduduk negeri ini mulai dari presiden sampai fakir miskin telah terbebani pajak selama hidupnya… kenapa begitu rakusnya hingga fakir miskin pun masih dicekik dengan pajak??
Namun bagaimana Islam memandang pajak?? Apakah adil?? Di dalam Islam segala sesuatu pasti ada solusinya, karena yang membuat undang-undang bukan anggota dewan di parlemen atau manusia manapun yang memiliki banyak kelemahan dan keterbatasan yang hanya mengikuti hawa nafsunya melainkan yang membuat undang-undang hanyalah Allah Sang Khaliq yang telah sempurna dan menyeluruh menurunkan pedoman hidup yaitu Al Qur’an dan As Sunnah. Karena syari’at yang Allah turunkan mengatur urusan manusia dari membuka mata hingga menutup mata kembali, jadi ada dong solusinya dalam hal pajak ini..
Pajak memang salah satu sumber pemasukan bagi Negara dalam Islam namun bukan yang utama, tidak seperti kapitalis maupun lainnya yang menempatkan pajak dalam pos penerimaan utama Negara. Dalam Islam ada berbagai sumber pemasukan bagi kas Negara, diantaranya Ghanimah/ harta hasil rampasan perang, Jizyah/ jaminan bagi kafir Dzimmi, maksudnya yaitu kewajiban sejumlah uang yang dibayarkan kepada pemerintahan Islam oleh kafir Dzimmi sebagai jaminan bahwa pemerintahan Islam akan menjaga hak-haknya sebagaimana warga Negara muslim yang lain. Kafir dzimmi adalah kafir yang tinggal dalam naungan pemerintahan Islam dan tunduk pada hukum Syara’, dan pemungutan Jizyah ini juga melihat kemampuan si kafir dzimmi tersebut, bila merupakan fakir miskin maka Negara wajib membantu kafir dzimmi tersebut. Sumber pemasukan lain adalah Zakat Maal dan Zakat Fitrah. Dan posisi pajak adalah bilamana Negara mengalami paceklik dan kondisi Baitul Maal dalam keadaan kosong, di situasi ini Negara memungut pajak kepada rakyatnya untuk kemudian diganti bilamana kondisi Baitul Maal telah kembali stabil. Baitul Maal bisa dibilang bendahara umum Negara yang merupakan muara berbagai pemasukan Negara.
Menilik negeri yang memiliki sumber daya alam berlimpah ini, kita seharusnya mampu melepaskan diri dari jeratan kemiskinan. Jutaan hektar hutan kita miliki, jutaan ton sumber daya laut berupa ikan dan sejenisnya kita miliki, gunungan emas perak kita berlebih, ribuan titik pertambangan kita punya namun apa yang bisa kita perbuat??
Liberalisasi ekonomi telah merenggut itu semua, privatisasi sumber daya alam telah mencekik saudara kita. Semua hal itu tidak terlepas dari wewenang pemerintah yang memberlakukan privatisasi dan liberalisasi individu maupun asing di negeri ini dalam kepemilikan serta pengolahan SDA dan pemerintah bertanggung jawab atas nasib rakyat yang tercekik dalam kemiskinan. Kebijakan liberalisasi ekonomi pemerintah tidak terlepas dari ideologi/pandangan hidup Negara yang menganut sistem kapitalisme-sekulerisme, rakyat tidak akan pernah mencapai kemakmuran bila negeri ini masih menerapkan sistem kufur kapitalisme dan tidak menerapkan sistem Illahi.
Aturan kepemilikan dalam Islam dibagi menjadi kepemilikan Negara, kepemilikan Umum, dan kepemilikan individu. Berbeda dengan kapitalisme dan yang lainnya yang mencampur adukkan antara kepemilikan individu dan umum yang memberlakukan privatisasi kepemilikan Negara maupun umum. Kepemilikan individu yaitu individu berhak memiliki barang diluar kepemilikan umum contohnya pakaian, kendaraan pribadi dsb. Kepemilikan umum yaitu berupa air, ladang dan api(energi) dimana kepemilikan ini tidak dapat dimiliki individu dan diolah oleh Negara untuk kepentingan masyarakat. Dan kepemilikan Negara yaitu diluar dari kepemilikan individu dan umum.
Begitu indahnya Allah mengatur urusan hambanya tanpa membebani suatu apapun, namun sistem pendapatan Negara dan kepemilikan tersebut hanya dapat dilaksanakan bila Syari’at Islam diterapkan secara kaffah/menyeluruh tidak secara parsial/setengah-setengah yang seperti sekarang ini terjadi. Mudah-mudahan kita termasuk ummat yang terus memperjuangkan agama Allah SWT guna kembali menyongsong kejayaan Islam.
Wallahu a’lam.

Advertisements

About NcangDaus

Tentang saya? kiranya ngga terlalu penting, nikmatilah tulisan ini tanpa harus tahu siapa penulisnya... :):D:D:D

6 responses »

  1. bayuputra says:

    salam hangat di akhir pekan mas… sukses selalu bersama keluarga tercinta…

  2. anyin says:

    hmm… jadi inget si mbak yang orang pajak

  3. Syahroyni says:

    gak ngerti mas. .
    soal pajak . .

    wong masih kelas 2 sma . .
    itupun jurusan IPA . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s