Manusia sebagai makhluk ciptaanNya dikaruniai sejumlah naluri dalam kehidupan di dunia, naluri yang apabila dipenuhi dapat menenangkan jiwa dan apabila tidak terpenuhi akan menimbulkan kegelisahan, rasa gundah dalam perjalanan kehidupan seorang manusia. Faktor naluri timbul akibat adanya respon seorang pribadi manusia yang berasal dari keadaan atau fenomena ekternal yang tampak yang dapat mempengaruhi dirinya.

Secara umum ada tiga naluri yang dikaruniai Allah SWT tertanam dalam diri manusia, yakni naluri mempertahankan diri, naluri meng-kultuskan sesuatu dan naluri mempunyai keturunan.
Dalam naluri mempertahankan diri ini (gharizatul baqo’), terdapat pada setiap makhluk ciptaanNya. Naluri ini akan timbul akibat terdapat ancaman dari luar (eksternal) yang dapat membahayakan dirinya maupun yang menyangkut dengan dirinya. Sikap resisten/penolakan akan muncul pada naluri ini jika suatu ancaman mendekat dan sebisa mungkin dirinya akan melakukan perlawanan sehingga ancaman tersebut dapat dihindari ataupun dihilangkan sama sekali. Contohnya pada seseorang yang mendapat ancaman preman (eksternal) ketika berjalan di suatu tempat, maka secara naluri ia akan menghindar dengan menjauhi preman tersebut atau mungkin jusru melakukan pertentangan sehingga ancaman tersebut hilang sama sekali.

Lalu adanya naluri meng-kultuskan/ mensucikan sesuatu yang dianggap memiliki kelebihan dan kekuatan sehingga dijadikan sandaran (gharizatu tadayyun). Bagi kaum Muslim jelas, bahwa naluri ini disalurkan melalui agama Islam dengan menyembah Allah SWT. Namun bagaimana bagi mereka yang tidak percaya sama sekali dengan tuhan (atheis)? Realitasnya sama, meski pada saat-saat normal para atheis ini menafikan eksistensi tuhan, namun pada saat dimana mereka berada pada titik terendah maka mereka akan berusaha mencari sesuatu untuk dikultuskan -yang dianggap memiliki kekuatan- yang dapat dijadikan sandaran atas permasalahan yang sedang mendera mereka sehingga mereka mengalami serta mendapatkan ketenangan spiritual.

Ada juga naluri mempertahankan keturunan (gharizatun nau’), atau bisa juga disebut dalam aspek seksual. Dan ini merupakan sebuah naluri dasar manusia yang tidak bisa dihilangkan. Sejatinya untuk dapat mempertahankan eksistensi manusia/makhluk hidup maka diperlukan adanya perkembangbiakkan. Naluri ini akan timbul dikala terdapat keadaan yang membuatnya muncul. Dalam realitasnya, hal ini merupakan suatu sunnatullah pada diri manusia. Saat ini pembicaraan/wacana mengenai pendidikan seks pada usia sejak dini banyak diperbincangkan, padahal menurut saya tidak diperlukan karena meski tidak “diajari” pun manusia akan dengan sendirinya melakukan perkembangbiakkan. Justru yang malah diperlukan adalah bagaimana menyalurkan naluri mempertahankan keturunannya dengan jalan yang baik (ma’ruf) sesuai dengan apa yang digariskan berdasarkan hukum (syari’at) Allah.

Peradaban manusia mengalami banyak perubahan dinamis dalam sejarah kehidupan, berbagai hal-hal baru banyak ditemukan dari catatan perjalanan zaman berburu, meramu, berladang, hingga era industri modern saat ini. Namun meski demikian, tidak ada yang berubah sama sekali dengan naluri dasar manusia yang memang sudah tertanam dalam setiap diri sebagai bukti sunnatullah.

wallahu a’lam.

Serang, 14 Juni ’11 4.37 pm

Advertisements

About NcangDaus

Tentang saya? kiranya ngga terlalu penting, nikmatilah tulisan ini tanpa harus tahu siapa penulisnya... :):D:D:D

4 responses »

  1. r10 says:

    semuanya benar, bahkan pada bagian gharizatu tadayyun, atheis juga butuh sesuatu untuk di-“sandarkan”

  2. NENENG NURHAYATI says:

    @a Rio: yoi, setuju jo…
    @teteh: siip… 🙂

  3. al fatih says:

    all: yapz… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s