Apa yang tersirat dari benak kita ketika medengar kata “calo”? kalo saya sendiri memaknainya sebagai pihak yang begitu istimewa dan patut disejajarkan dengan presiden.. hehe, meski dimata saya presiden adalah manusia teraneh di permukaan bumi…

Macam-macam calo dapat kita temui di atas bumi ini, mereka sama seperti kita, makan nasi dengan mulutnya, bernafas dengan hidungnya dan berjalan dengan kakinya. Mendengar kata “calo”, dapat dipastikan tergambar sebuah terminal dengan puluhan angkutan umum disisi mereka, para calo. Meski ada profesi tertentu yang dengan bangganya dibumbui dengan kata “calo”, misal calo ijazah pendidikan bagi mereka yang ingin terlihat jenius secara instan dengan menambah beragam gelar di belakang nama para orang-orang jenius itu dan yang pasti ada satu gelar non-pendidikan yang pasti secara otomatis disematkan di depan nama setiap orang tanpa perlu makelar calo, gelar itu biasa disingkat “Alm” atau yang lebih keren calo berdasi yang medan kerjanya di tempat-tempat sejuk ber AC, dengan banyak staf cantik yang selalu mendampingi disisi mereka, biasa pegang map dan bolpoin mahal serta ga lupa sepatu pantopel merk yahud yang harganya sama dengan biaya makan tiga kali sejumlah 700 orang selama sehari plus desert dan appetisernya, itu calo anggaran. Dan masih banyak lagi yang lainnya…….

Kalo kita telaah teori secara empiris bidang percaloan, ada satu teori yang cocok digunakan dalam studi percaloan itu, teori Keagenan. Teori ini secara empiris telah teruji dalam banyak penelitian sebelumnya yang tidak berhubungan dengan percaloan dan kali ini akan kita gunakan dalam mengidentifikasi, menganalisa, menelaah dan mengembangkan teori keagenan dalam percaloan.
Seperti yang sudah kita pahami bersama bahwa, prinsip dasar calo dan percaloan itu adalah mengutamakan kompetensi verbal dan linguistik seseorang. Dimana tingkat kemampuan verbal dan linguistik para calo berpengaruh positif terhadap pendapatan rata-rata perhari meski pada pantauan yang lain hal ini berpengaruh negatif terhadap nasib dan kondisi ekonomi.

Seorang calo harus memilki sikap dan sifat yang dalam bahasa Yunani biasa disebut Legowo. Hal tersebut dikarenakan profesi ini membutuhkan tingkat kerelaan hati yang begitu tinggi dan tidak setiap profesi memilikinya. Seorang calo tidak akan pernah berharap dapat merasakan produk dan jasa yang ia tawarkan kepada pelanggan. Seorang calo tiket konser Jimmy Hendrik misalnya, ia tidak pernah berharap dapat menyaksikan sang artis beraksi di depan matanya secara langsung namun ia tetap legowo dan fokus pada profesinya meskipun ia memiliki tiket konser tersebut dan dapat dipastikan ia tidak berharap dapat menonton konser yang bersangkutan karena dengan menghadiri konser tidak dapat menjamin ia dapat tidur nyenyak pada malam harinya. Selanjutnya calo tiket pesawat tujuan Swiss misalnya, meskipun memiliki tiket pesawat sang calo tidak akan dapat tiba di Swiss pada saat itu dan hanya pelanggannya saja yang memiliki peluang besar meski tetap tidak dapat dipastikan dapat tiba di Swiss, sang calo tetap pada prinsipnya Legowo.

Selanjutnya ada yang memiliki prinsip sama seperti calo namun kedudukan dan stratanya jauh diatas banyak calo pada umumnya. Calo yang satu ini tetap saja tidak akan mendapat dan tidak pernah berharap berada pada posisi yang pelanggannya dapatkan namun ia tetap Legowo. “calo” yang demikian yakni para pendidik  , mereka tetap memasarkan produk dalam kemasan ilmu yang dimilikinya kepada para pelanggannya namun mereka tetap tidak memiliki peluang besar untuk dapat merasakan seperti apa yang didapat oleh pelanggannya. Seorang pendidik tingkat dasar akan menggiring pelanggannya untuk dapat meraih pendidikan tingkat tinggi dan tertinggi sedangkan pendidik tingkat dasar itu tetaplah pada posisinya yang memiliki peluang kecil untuk dapat bergeser posisi seperti apa yang didapat pelanggannya. Saya kira itulah calo terbaik….

Tulisan ini bukanlah untuk para pembaca yang jenius dan bukan bagi mereka yang menggunakan telinganya untuk menulis. Hirau terhadap tulisan ini cerminan anda jenius. Jadi, jadilah jenius.

Advertisements

About NcangDaus

Tentang saya? kiranya ngga terlalu penting, nikmatilah tulisan ini tanpa harus tahu siapa penulisnya... :):D:D:D

10 responses »

  1. hmmm, saya bingung dengan “calo” ber predikat pendidik sob, apakah memang termasuk kategori calo juga ya ??

  2. mechtadeera says:

    Kalau buat ku, Calo berkonotasi negatif dengan orientasi keuntungan semata… jadi aq -yg sdh jelas terbukti tak jenius ini- kok kurang setuju bila di globalkan bahwa kalangan pendidik seperti calo.. mungkin ada yg seperti itu, tapi (semoga) masih banyak pula yg murni menjalankan tugas dan tak hanya memikirkan keuntungan semata.. 🙂

    • Uz 1453 says:

      hehe,, iya Mbak kemiripan cuma ada di prinsip dasarnya ajah.. semoga banyak calo-calo yang tetap berhati mulia di luar sana 😀 😀

  3. iya calo itu harus legowo ya… karena dia pasti tidak menikmatinya… bener juga tuh pemikirannya.

  4. Hany says:

    calo oh calo, sebaik apapun dirimu, jadilah khalifah yg mampu mensejahterakan masyarakat sampai ke pelosok desa ( ¯^¯)

  5. Bakharuddin says:

    Terima kasih info, jadi banyak tahu tentang prilaku calo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s