Belum hilang dari ingatan kita gemparnya negeri ini dari isu kenaikan harga BBM yang kurang dari setengah bulan lalu berpolemik di penjuru negeri namun masih menyisakan banyak tanya di dalam sanubari publik atas hasil akhirnya hingga detik ini, muncul lagi gebrakan dari pemerintah yang dicintai para pendukungnya dalam melaksanakan amanat undang-undang yang mereka buat dan imani sendiri. Undang undang Keadilan dan Kesetaraan Gender.
Hal ini sejatinya bukan lagi isu baru, menurut sumber hidayatullah.com, draf RUU KG sudah ada di Kementerian PP dan PA sejak tahun 2010. Besar dugaan kondisi ini sengaja diciptakan agar tidak timbul resistensi umat Islam terhadap draf RUU ini. Oleh karenanya, para pengusung ide (RUU) ini dari kaum feminis dan liberal mulai lagi kembali memunculkan isu ini. Dapat kemungkinan juga untuk pengalihan isu beberapa kasus besar yang belum jelas akhirnya, apakah itu kasus Wisma Atlet dan lain sebagainya.
Jika kita telisik arus utama dari RUU ini dapat ditarik ke dalam dua latar belakang, yakni pengkaburan peran perempuan dan kepentingan bisnis. Meski ada keburukan derivatifnya yang akan terjadi dari sekian banyak dampaknya.
Pertama, Dalam konsep kesetaraan gender terdapat jargon “my body is my right”. My body is my right merupakan hak perempuan atas integritas dan kontrol terhadap tubuhnya sendiri. Selama ini kontrol terhadap perempuan ditentukan oleh pasangan, suami, keluarga, masyarakat, bahkan negara. Perempuan berhak miliki hak otonomi untuk pengambilan keputusan yang terkait dengan tubuhnya sendiri, misalnya cara berpakaian, hak untuk hamil, melahirkan dan menyusui, penentuan jumlah dan jarak kelahiran anak, memilih alat kontrasepsi, hak seksual dan seksualitas, dan lain-lain.
Kedua, Dibalik ide KKG mengintai kerakusan nafsu bisnis. Bernard Lewis dalam bukunya, The Middle East mengungkapkan, “Faktor utama dalam emansipasi perempuan adalah ekonomi …. kebutuhan tenaga kerja perempuan.” Nicholas Rockefeller -seorang penasihat RAND- menyatakan tujuan kesetaraan gender adalah untuk mengumpulkan pajak dari publik 50% lebih untuk mendukung kepentingan bisnis.
Konsep keadilan dan kesetaraan yang dipahami dalam masalah ini adalah kondisi dimana gender bukan lagi sebagai pembatas antara kewajiban dan hak, pria dan wanita memiliki persamaan kewajiban dan hak berdasarkan kadar materinya. Menurut Dr Adian Husaini, Konsep Tuhan yang dipakai dalam RUU KG ini berpijak pada konsep Tuhan versi Iblis, diakui keberadaan-Nya tetapi utusan dan aturan-aturanNya ditolak atau dilawan.
Sejatinya dalam Islam keadilan dan kesetaraan itu bukan diukur dari kadar materi yang didapat pada salah satu gender. Seorang istri akan lebih mulia ketika hanya mengurus rumah tangga daripada bekerja di luar rumah yang dapat menelantarkan pendidikan pada anak di rumah dan begitupun seorang suami akan mendapat posisi yang mulia di hadapan Allah ketika bekerja keras menafkahi keluarganya dengan jalan yang halal. Jadi, kesetaraan dan keadilan geder disini diukur pada seberapa patuhnya kita terhadap aturan yang telah termaktub dalam Qur’an dan Sunnah.
Banyak pihak yang telah melayangkan gugatan atas hadirnya RUU ini, terlebih ormas-ormas Islam yang menuntut RUU ini untuk segera dibatalkan. Menurut ormas-ormas Islam tersebut, banyak pasal-pasal karet dalam RUU KKG yang dapat menimbulkan multi tafsir bagi publik. Sekilas dapat dilihat dari opini yang dibuat di beberapa pasal dalam RUU ini bertujuan untuk melangkah ke arah melegalkan pernikahan lintas agama dan pernikahan sesama gender. Menurut pendukung RUU ini, ketidakadilan dan diskriminasi telah banyak melanda kaum perempuan, seperti dalam perihal hak dan kewajiban dimuka publik dan dalam hal privasi lain seperti terkait pakaian, larangan perempuan menjadi pemimpin negara/penguasa, tanggung jawab keibuan, relasi suami istri, perkawinan, perwalian, nusyuz, ketentuan waris dan lainnya dianggap diskriminasi dan tak adil atas perempuan.
RUU ini jelas harus ditolak, karena secara tidak langsung melakukan legal counter terhadap syariah Islam. Dan perlu ditegaskan bahwa, alasan utama untuk menolak RUU ini bukanlah pada fakta ada tidaknya pasal-pasal “karet” didalamnya sehingga dapat banyak menimbulkan multi tafsir pada khalayak umum. Lantas bagaimana jika kelak suatu saat terdapat RUU “nyeleneh” yang kembali ditelurkan oleh kaum kafir yang kemudian kita tidak dapat lagi menemukan pasal-pasal dan ayat “karet” didalamnya yang selama ini menjadi alasan untuk menolak perundang-undangan sekular di negeri ini, meskipun tetap saja aturan buatan manusia tidak dapat terpisahkan dari kecacatan formulasinya.
Namun alasan utama kenapa kita harus menolak RUU ini yakni karena memang aqidah dari sumber RUU yang selain dari Islam. Aqidah sekular yang melahirkan RUU inilah yang harus menjadi landasan alasan utama kita untuk menolak segala bentuk RUU dan Perundang-undangan yang ada sebagai bentuk produknya. Oleh karenanya, sikap tegas dan jelas harus dimunculkan, bahwa penolakan atas RUU ini bukanlah pada konten didalamnya yang memang sudah dzalim, tetapi lebih kepada penolakan penggunaan aqidah sekular dalam berkahidupan selama ini.
Jelas bagi kaum muslimin diwajibkan hanya untuk berhukum merujuk kepada Syariah. Bukan karena ketika kita berhukum kepada Syariah segala aspek kehidupan kita akan menjadi makmur dan sejahtera, tapi lebih kepada konsekuensi keimanan kita berhukum kepada Syara’ dan menolak segala jenis ide dan aqidah selain daripada hukum Syara’ sebagai landasan dan pedoman kehidupan kita. Satu hal yang menjadi penting untuk disampaikan, guna merealisasikan dan melanjutkan kembali kehidupan Islami kita harus merujuk kepada manhaj Rasulullah dan segala bentuk hukum Syara’ hanya sesuai digunakan dalam bingkai Khilafah Islamiyyah. 
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” TQS 2:208

Advertisements

About NcangDaus

Tentang saya? kiranya ngga terlalu penting, nikmatilah tulisan ini tanpa harus tahu siapa penulisnya... :):D:D:D

2 responses »

  1. Hany says:

    datang g ni ke undangan ??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s