Tidak sekali ataupun dua kali saya melihat sebuah kondisi yang membuat terenyuh. Entah karena kekurangpahaman atau bagaimana situasi itu terus berlanjut, tapi alangkah baiknya kalo tetap mengedepankan prinsip husnudzon. Hmm.. apa yang sebetulnya ingin saya tulis yah kenapa makin bertele-tele begini…  okeh, saya mulai pembahasannya deh..
Begini, sekali lagi cuma mau sekedar share aja. Pada setiap kali saya menyempatkan sholat berjamaah entah di masjid, musholla atau dimana pun itu, ada sebuah situasi yang kurang sedap dipandang. Semoga cuma sebatas perasaan saya aja, kenapa “why” pada saat berjamaah kerap kali kita sering melihat keadaan shaf yang belum rapat dan tentunya renggang meski ada beberapa juga yang udah benar-benar merapatkan shaf, iya apa iya, toh…
Sejatinya tidak jarang imam telah mengingatkan agar para makmum merapatkan shaf, namun belum banyak yang menyadari bagaimana merapatkan shaf itu. Sedikit mau saya kutipkan hadits tentang hal ini:
Berikut ini adalah dalil mengenai tata cara merapatkan dan meluruskan shaf dalam sholat berjamaah

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dia bersabda: “Luruskan shaf kalian, sesungguhnya aku melihat kalian dari belakang punggungku.“ Maka salah seorang di antara kami menempelkan bahunya dengan bahu kawannya, dan kakinya dengan kaki kawannya. (HR. Bukhari No.692)

Dalam riwayat lainnya:

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam selalu meluruskan shaf kami, sehingga beliau seolah-oleh meratakan anak panah sehingga beliau melihat bahwa kami telah memahaminya. Kemudian suatu hari beliau keluar (untuk menunaikan sholat), lalu berdiri hingga ketika hampir mengucapkan takbir, beliau melihat seorang lelaki dadanya keluar (menonjol) dari shaf, maka beliau bersabda: “”Hai hamba-hamba Allah, kalian benar-benar meluruskan shaf kalian (jika tidak) Allah akan (menimbulkan perselisihan) di antara wajah-wajah kalian.” (HR Muslim dan Ahmad)

Ya, dalil di atas cukup jelas toh. Kalo istilah birokratnya, udah jelas JukLak n JukNis nya.. 
Teman saya pernah bilang, ada istilah “Makin lebar sajadah seorang makmum, maka makin longgar shaf jamaahnya” itulah kenapa judul postingan kali ini seperti di atas. Ya, saya kira istilah yang cukup cocok meski bukan buat ditiru. Don’t try this in our jamaah, hehe. Ada juga yang nyeletuk, kalo hal tersebut merupakan sebuah konspirasi juga (wah kalo ini, hmm… gimana ya… :D).
Ya, bagaimana pun hal ini perlu diluruskan seperti lurusnya shaf-shaf jamaah kita. Tentunya semua butuh proses dimana kita patut untuk juga menyampaikannya… 

Advertisements

About NcangDaus

Tentang saya? kiranya ngga terlalu penting, nikmatilah tulisan ini tanpa harus tahu siapa penulisnya... :):D:D:D

3 responses »

  1. Ilham says:

    mungkin supaya kalo mau jalan keluar sehabis shalatnya gampang. 😆 saya juga sih kadang… 😳

  2. Bakharuddin says:

    Terima kasih pencerahannya …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s