Bismillaah..

Mendayu-dayu semilir angin dari kipas kesayangan mengiringi di awal pagi ini, kesetiaan cumbuan para nyamuk yang tiada henti menghisap di permukaan kulitku yang sawo mengkel dan suaranya yang tetap bergumam di telinga, hingga cumbuannya itu, ku hantarkan sedikit cumbuan balik mesra yang berasal dari telapak tanganku… #plaaak…

Sambil diiringi kemesraan para nyamuk yang selalu mencintai saya, saya sedikit mau ulas mengenai sebuah kata yang mirip-mirip seperti sebuah makna positi namun bermakna sebuah racun mematikan… wah wah,,, berbisa bak 2 liter racun King Kobra… 🙂

Pernah mendengar, mbaca, ngliat ato mengendus kata pluralitas?  Ya, sebuah kata yang indah mengenai perbedaan, sebuah sunnatullah yang diberikan oleh Sang Maha Penguasa alam semesta kepada segenap makhluknya. Pluralitas, saya memaknainya sebagai sebuah keindahan berbagai makhluk. Adanya berbagai suku, agama, ras, profesi dan kawan-kawannya. Benar-benar sebuah keajaiban yang diturunkan Nya ke bumi ini. Sempurna… (bukan lirik Andra n The Nge-bon)

Sayangnya, belakangan ini timbul sebuah istilah baru yang menggemaskan saya dan segenap umat manusia di muka bumi. Mirip dengan kata pluralitas tapi bukan sama sekali, berbeda jaaauuuuuh. Apa itu? Itulah “pluralisme”.

Singkatnya paham Pluralisme itu bermakna, setiap agama mengajarkan kebaikan jadinya setiap agama adalah sama, sama-sama punya tuhan, sama-sama beribadah dan bedanya cuma dari sisi tata cara ibadahnya ajah serta selebihnya sama. Tidak ada kebenaran agama yang mutlak. #Koplak

Ya, kurang lebih begitu pengertian Pluralisme, agan n sista bisa cek definisi detailnya di Eyang Gugel.. :). Sebuah ke-koplak-an luar biasa toh, perselingkuhan maknawi antara pluralitas dan pluralism. Sayangnya kekeliruan ini harus kudu di luruskan, sungguh beda antara pluralisme dengan pluralitas. Ada yang beranggapan justru pluralisme itu memiliki arti perbedaan yang ditolerir dalam kemanusiaan, dan pluralitas lebih dekat kepada kondisinya. Dan untuk yang seperti ini saya kurang sepaham.

Bila saja makna pluralitas telah bermakna perbedaan yang memang sudah sunnatullah mengiringi penciptaan makhluq, mengapa ada pluralism? Atau memang ada makna lain dari pluralism itu sendiri. Sobat bisa cari juga banyak referensi tentang pluralism ini, biasanya paham pluralism ini mengiringi paham-paham liberal lainnya, so, kudu waspada.

Sebetulnya istilah2 baru banyak yang udah “lahir” meski prematur dan dipaksakan keberadaannya dan sayangnya istilah2 baru itu ngga bebas nilai dalam artian ada makna-makna tertentu dibaliknya. Salah satunya ya pluralism ini. Cara agar istilah2 “alien” seperti ini dapat diterima masyarakat mudah aja, tebar dalam media dan terus didengungkan berulang kali, habis perkara.

So, sekedar berbagi aja, bahwa sekeliling kita kadang tampak berwarna putih namun kita harus meyakini dibelakang itu ada terkandung warna lain didalamnya. Keep smile dulu ah…. 🙂

Dear mosquitos, makasi udah meluangkan waktu kalian, nemenin buat nulis postingan ini meski kalian pasti lelah terbang sambil tetap berdengung di telingaku dan capek buat menghindar dari kecupan tangan kasar ku. #plaak

 

Advertisements

About NcangDaus

Tentang saya? kiranya ngga terlalu penting, nikmatilah tulisan ini tanpa harus tahu siapa penulisnya... :):D:D:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s